Peningkatan Sumber Daya Manusia Perspektif Islami


Peningkatan Sumber Daya Manusia Perspektif Islami

A. PENDAHULUAN

INSAN  dalam kacamata Islam merupakan suatu  “ Makhluk Unggulan “ yang dikaruniai akal kreatif sehingga fotensi ini sangat memungkinkan untuk melakukan pencerahan, mengembangkan peradaban dan kebudayaan, seperti dalam transfortasi canggih dan produksi menu yang berkualitas dan bersifat massif , sebagaimana yang telah dipaparkan pada surah Al-Isra’ : 70

“ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di lautan, Kami beri rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan “

Keunggulan manusia tersebut telah direkomendasikan oleh Allah swt sendiri, sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan idzin yang diberikan Allah kepadanya, manusia akan dapat melampaui keunggulan malaikat dan makhluk hidup lainya. Hal ini dapat kita rujuk dalam surah al-Baqarah : 31 – 34.

“ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : “ Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar “.

“ Mereka menjawab : Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana “

“ Allah berfirman, “ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu Allah berfirman. “ Bukankah sudah ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.? “

“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu ( menghormati dan memuliakan ) kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”.


Allah juga menggambarkan bahwa gunung-gunung dan benda-benda langitpun akan disaingi oleh kehebatan potensi Sumber Daya Manusia. Meskipun manusia itu kerap kali terjebak oleh sikap kekonyolannya dan tindakan-tindakan yang spekulatif, rekomendasi ini tercantum  dalam surah al-Ahzab : 72.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh ”.


Manusia menurut informasi Qur’ani, eksistensi manusia diciptakan oleh Allah swt terdiri dari dua komponen strategis, yaitu, Pertama adalah komponen materi, dari ekstrak tanah (Sulaalah min-tiin). Kedua, adalah komponen yang non materi, yang memiliki kekuatan fungsional untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan. (As-Sajadah : 9), yang di sebut “ Ar-Ruh”, suatu substansi yang tetap misterius, dalam arti belum terungkap secara jelas tentang hakekatnya, sistem kerjanya, maupun mobilitasnya. Bahkan Allah swt sendiri menyatakan bahwa “ ar-ruh ” itu merupakan monopoli kompetensi-Nya, sedangkan manusia yang serba terbatas ini hanya bisa mengetahui dan memahami dalam kadar yang sangat minimal sekali ( al-Isra’ : 85)

Kualitas dan kapabilitas kemakhlukkan manusia yang demikian itu diakui oleh makhluk-makhluk Allah Swt yang lain, kecuali IBLIS, yang menyatakan bahwa eksistensi dirinya lebih mulia dan lebih hebat dari pada manusia (Adam), dan sekaligus mengkritisi atau menentang perintah Allah Swt untuk menghormati Adam. Dan sejak itulah iblis  mendapat predikat atau gelar “ SYAITAN “, yakni makhluk pemberontak yang jauh dari jalan kebenaran (al-Baqarah: 34, al-A’raf : 11-12, al-Hijr : 30-33, dll).

Sikap syaithoniyah Iblis ini pada dasarnya bukanlah merupakan prinsip “ Anti Tuhan” tetapi lebih menunjukkan prinsip Anti Tuhan . Untuk itu dia memohon atau MoU agar diberikan dispensasi umur panjang kepada Tuhan, sekaligus konsensi (perizinan), atau legalitas untuk terus-menerus berusaha mempengaruhi dan menyesatkan manusia agar bergeser dari jalan kebenaran yang harus dilalui dalam lalulintas kehidupannya.


B. PEMBAHASAN

Hakekat eksistensi esensial manusia dalam kehidupan ini sejak Nabi Adam as. Sampai akhir zaman nanti memiliki dua dimensi tugas atau misi  :

  1. ‘Abdullah (Ibadah)

Menurut Muhaimin (2002: 21) Yang  memiliki pemahaman menyembah atau mengabdi kepada Allah swt. tugas manusia merupakan realisasi dari mengemban amanah, dalam arti : memelihara beban/tugas  kewajiban dari Allah yang harus dipatuhi, kalimat La ilaaha illa Allah atau kalimat tauhid, dan atau ma’rifat kepada Allah. Sedangkan menurut Harun Nasution (1985:38) memaknai ‘Abdu’ adalah, menyerah, tunduk, disiplin, dan menjaga diri dari hukuman Tuhan di hari Kiamat. Dengan lain kata, manusia diciptakan Tuhan sebenarnya ialah untuk berbuat baik dan tidak untuk berbuat jahat. Niat beribadah bukan untuk mengiventarisir pahala untuk menyogok  Tuhan agar dimasukkan kedalam sorga-Nya, tapi beribadah tujuannya hanyalah mengharapkan RIDHO ALLAH.

 

    “Dan aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku “. (S.Adz-Dzariyat : 56)


   “Katakanlah. Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(S.al-An’am : 162)


  1. Khalifah Allah.

Kata khalifah berasal dari kata ‘khal’ (menggantikan) , atau kata khalaf (orang yang datang kemudian) sebagai lawan dari kata ‘salaf’ (orang terdahulu). Adapun arti khalifah adalah menggantikan yang lain. Jadi manusia sebagai khalifah memiliki tugas, mewujudkan kemakmuran, keselamatan dan kebahagian, bekerjsama dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran.


    “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya  Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, Mereka berkata, mengapa Engakau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan engkau ? Tuhan berfirman : Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui “. (S. Al-Baqarah : 30)


    Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rah-mat bagi semesta alam. (S.al-Anbiya’ : 107)


Jadi, Misi manusia adalah mewujudkan kemakmuran, keselamatan dan kebahagian, bekerjsama dalam menegakkan kebenaran dan kesabaran di muka bumi dengan jalan menegakkan nilai-nilai Islami sesuai dengan tata sosial yang bermoral untuk terwujudnya masyarakat yang beradab, adil, dan makmur serta menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Untuk menuju keberhasilan tugas-tugas tersebut, dan untuk meraih kemaslahatan hidup manusia itu sendiri, Allah swt  tidak melepaskan manusia hidup di dunia ini semata-mata mengandalkan kekuatan yang bersumber pada potensi-potensi yang sudah di save pada diri manusia itu sendiri ( Fitroh Mukhallaqah), tetapi Insan itu  juga telah dilengkapi dengan bimbingan spiritual, doktrin dan informatikal melalui wahyu yang diterima dari para Rosul (Fitroh Munazzalah), yang dalam aktualisasinya kita kenal dengan sebutan “ AGAMA”, sebagaimana yang diungkapkan dalam al-Qur’an surah Ar-Rum : 30.


Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah swt), tetaplah atas fitrah Allah Swt yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah swt. ( itulah ) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “.


Kompetensi mengingat kepada Allah swt (dzikrullah), merupakan indikasi adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan kualitas hubungan ini akan ditentukan oleh identitas dan kualitas dzikir yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, dengan berbagai model, cara, dan aksionalnya.


Didalam konteks inilah Islam dengan tegas menyatakan peranan Tuhan yang tidak dapat tidak (keniscayaan) bagi manusia. Jika mengingat kepada Allah swt dan adanya Allah swt memberikan arti dan tujuan kepada kehidupan manusia, jika manusia tidak memiliki kesadaran yang tinggi tentang adanya Tuhan dan Peranan-Nya, otomatis akan membuat kehidupannya tidak mempunyai arti dan tujuan. Sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-Hasyr : 19. 


“ Janganlah engkau seperti orang-orang yang melupakan Allah swt, sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang sesat “ (S. Al-hasyr : 19 )


Seruan al-Quran ini tertuju baik kepada kehidupan manusia secara individu maupun  kolektif, agar selalu mengingat dan menyadari peranan Allah swt, merupakan langkah strtegis menjamin keutuhan kualitas jatidiri pribadi Insani,  dimana seluruh detail kehidupan dan aktivitas manusiala akan mengalami integrasi dan sintesa sebagaimana yang semestinya. Sebaliknya, jika manusia banyak melupakan dan mengabaikan Allah swt, menyebabkan fragmentasi eksistensi, sekularisasi kehidupan kepribadian, maka kehidupan manusiaakan eror potensi fitrahnya.

Pendidikan adalah salah satu perhatian sentral ummat islam, baik dalam negara mayoritas muslim maupun minoritas muslim. Tujuan, wawasan, sistem dan kelembagaan pendidikan yang dilaksanakan oleh dan untuk masyarakat muslim merupakan masalah krusial yang mempunyai tanggung-jawab langsung terhadap ummat Islam.

Secara Terminologi “Pendidikan Islam“ berarti suatu proses yang komprehensif dan pengembangan kepribadian manusia secara keseluruhan, yang meliputi intelektual, spiritual, karakter, dan fisik. Seorang Muslim dan Muslimah harus disiapkan dengan baik untuk dapat melaksanakan tujuan-tujuan kehadirannya oleh Tuhan sebagai hamba dan duta-Nya (Khalifah-Nya) di bumi Allah ini

Jika kita lakukan rujukan pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Islam  yang pertama di Makkah pada tahun 1977, telah dirumuskan beberapa rekomendasi yang terkait dengan konsep Pendidikan Islam sebagai berikut :

“ Pendidikan bertujuan mencapai pertumbumbuhan  kepribadian totalitas manusia yang menyeluruh secara seimbang, melalui latihan spiritual, intelektual, rasional diri, perasaan danindera. Karena itu pendidikan Islam seharusnya menyediakan wahana dan sarana bagi perkembangan manusia dalam segala aspeknya, seperti spiritual, intelektual, imanjinatif, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini ke arah   kebaikan dan Insan kamil. Tujuan terakhir pendidikan Muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah  baik secara  individual, komunitas, maupun seluruh ummat manusia.”

Sebagai kerangka perwujudan fungsi idealnya untuk peningkatan kualitas SDM tersebut, sistem pendidikan Islam haruslah konsen mengorientasikan diri kepada menjawab kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam masyarakat kita sebagai konsekuensi logis dari perubahan. Meski indonesia telah mencapai kemajuan, pembangunan tentu saja masih jauh daripada selesai.Untuk itu, tidak ada alternatif lain, kecuali penyiapan SDM yang berkualitas tinggi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keahlian dan skill. Hanya dengan tersedianya SDM yang berkualitas tinggi itu, Indonesia bisa survive di tengah pertarungan ekonomi dan politik internasioanl yang terus kian kompetitif.

Konsep Islam tentang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) , tidak mengenal penghalang dan pembatasan pada sains teoritis, empiris, dan terapan, kecuali pembatas yang menyangkut tujuan-tujuan akhir dari IPTEK tersebut di satu pihak, dan hakekat dampak di pihak lain. Pemahaman Islam, ilmu pengetahuan mempunyai fungsi ibadah, dan dengan ibadah itu manusia semakin membumi kesadarannya dan dapat meningkatkan grafik vertikal  dengan TUHAN. Jika niat dan tujuan yang baik, maka akan memperoleh perlindungan Rahmat Tuhan, bahkan dijanjikan pahala oleh Tuhan, sebagaimana layaknya ibadah-ibadah yang lain. Sedangkan konsep proses mencari ilmu dalam Islam adalah dengan memiliki motto “ Seumur Hidup ”, yaitu dari ayunan sampai ke liang kubur, bahkan menurut pakar-pakar Muslim proses rekaman pendidikan itu sudahdimulai dalam alam rahim seorang UMMI. Dengan demikian, maka upaya mengembangkan kualitas diri tidak terbatas oleh umur, ruang, dan status.

Aktivitas pendidikan Islam tidak hanya sekedar mentransfer pegetahuan dan keahlian, tetapi juga mampu merealisasikan nilai-nilai simbol-simbol dari ritual Islami, etika, kebudayaan, dan keteladanan. Hal ini memerlukan  latihan, yang di awali dari proses kehidupan pribadi, keluarga atau rumah tangga  sebagai pranata ( institusi) kependidikan “ULA”  yang sangat strategis, dalam membentuk watak dan kepribadian manusia.

Islam menyatakan apapun pandangan hidup, keyakinan dan prilaku seseorang, tidak bisa lepas dari akuntabilitas kedua orang tua, intervensi instrumen  awal yang akan mengkontaminasi kepribadian manusia, juga berfotensi bersumber dari faktor lingkungan sosial. Data empiris membuktikan, bahwa potret lingkungan keluarga yang berantakan dapat memberikan dampak negatif terhadap keperibadian anak-anaknya. Keperibadian adalah bahan baku utama parameter Kualitas Sumber Daya Manusia. Di era modern sekarang peranan keluarga sebagai pranata awal pendidikan dalam masyarakat  tendensi melemah yang disebabkan oleh multi faktor.

Pendidikan pada dasarnya memang merupakan usaha pengembangan Sumber daya manusia (SDM). Meskipun pengembangan sumber daya manusia bukan hanya dilakukan melalui pendidikan, khususnya pendidikan formal, tetapisampai saat ini dipercayai bahwa pendidikan merupakan sarana utama untuk mengembangkan SDM, yang dilakukan secara sistematis, progmatis, dan berjenjang. Dalam konteks inilah, pendidikan akan semakin dituntut peranannya dalam pembangunan bangsa, untuk mengahsilkan manusia Indonesia yang berkualitas. Sedangkan ciri-ciri manusia Indonesia yang berkualitas yang diidealkan itu di diskripsikan secara jelas dalam Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu : 

Beriman, dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi-pekerti luhur, berkepribadian, mandiri,maju,, tangguh, cerdas, kreatif, trampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung-jawab dan produktif serta sehat rohani dan jasmani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan dan berorientasi masa depan ”.

Mungkin diantara kita ada juga yang ingin meminimalkan formulasi ciri-ciri tersebut, dengan mengatakan, bahwa sumber daya manusia yang harus diupayakan melalui pendidikan adalah yang bercirikan : Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kreatif, produktif dan berkepribadian, tanpa mengabaikan makna yang terkandung dalam ciri-ciri yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional.

Dari itu semua, jelaslah bahwa pengembangan sumber daya manusia tidak mungkin cukup hanya mengembangkan potensi  “ akal “ dan “ Jasad “ saja, tanpa memperhatikan pengembangan potensi “ QOLBU “ (hati nurani), yaitu potensi yang akan mengembangkan spiritual manusia, moral etika, estetika dan sikap-sikap serta perilaku yang positif lainnya.

Keunggulan intelektualitas, profesinalitas, dan studi yang tinggi, serta gelar yang berderet, yang dihasilakn oleh iptek melalui potensi akal, jika tidak diimbangi secara ketat dengan keunggulan spiritualitas dan moralitas, maka yang terjadi hanyalah segudang SDM yang hanya mempertanyakan “ Apa Yang Bisa Dilakukan ? “. Dan tidak lagi mempertanyakan “ Apa Yang Baik Dilakukan ? “, dan akan jauh lagi dari mempertanyakan “ Apa Yang Halal Dilakukan “ ? 

Pertanyaan “ Apa yang BISA .. “ mengacu pada keunggulan intelelektual dan profesional (ahlinya), tetapi pertanyaan “ Apa yang BAIK ... “ mengacu kepada moralitas dan spiritualitas. Sedangkan pertanyaan “ Apa yang HALAL ... ? mengacu kepada religiusitas (keagamaan) yang kuat.


C. KESIMPULAN

Dari deskrisi atau paparan di atas dapat penulis tarik beberapa kesimpulan anatara lain sebagai berikut :

  1. Manusia dalam pandangan Islam merupakan makhluk unggulan, yang dibekali bebrapa potensi, yaitu akal,qolbu dan jasad estetik. Potensi tersebut harus dikembangkan untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang memungkinkan manusia melakukan tugas esensial dalam hidupnya yaitu, “Beribadah Kepada Tuhan”  danKhalifah Allah “. 
  2. Pendidikan merupakan usaha dalam pengembangan SDM, yang dilakukan secara sistematis, progmatis, dan berjenjang, agar dapat mengahsilkan manusi-manusia yang berkualitas, paripurna dan bermartabat, serta bermanfaat untuk sekalian alam.
  3. Pendidikan Islam sangat responsifdalam upaya peningkatan kualitasSumber Daya Manusia  dengan melalui proses yang komprehensif, yang meliputi intelektual, spiritual, emosional dan fisik, sehingga seorang muslim dapat disiapkan dengan baik sehingga mampu berpenampilan yang bersinergi antara IPTEKdanIMTAQ.

Demikianlah ulasan Penulis sehari-hari berprofesi sebagai Guru, juga aktif mengajar di STAI Ma’arif Jambi, Tutor UT Jambi, dan STISIP NH Jambi.


SUMBER REFERENSI

  1. Al-qur’anul Karim.
  2. Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Melinium Baru, Jakarta, Kalimah, 2001.
  3. Depag RI, Pengawasan dengan Pendekatan Agama, Jakrta, Irjen Depag RI, 2005.
  4. Hasan Langgulung, Asas-Asas pendidikan Islam, Jakrta, Al-husna, 1987.
  5. Harusn Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Asfeknya, Jakarta, UI Press, 1985.
  6. Hanun Asrohan, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu, 2001
  7. Muhammad Tholhah Hasan, Islam & Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta, Lantabora Press. 2003.
  8. Muhaimin,et.al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya,2002
  9. Said Agil Husin Al Munawar, Aktualisasi Nilai-nilai Qur’ani Pendekatan Sistem Pendidikan Islam,Jakarta,Ciputat Press,2003
  10. Weinata Sairin, Pendidikan Yang Mendidik Butir-Butir Pemikiran Strategis-Reflektif di Seputar Pendidikan, Jakarta, Yudistira, 2001.



Penulis : Drs. Sobri. A, M.Ag

 


 

Halaman ini diproses dalam waktu : 0.527 detik
Diakses dari ip address: 3.238.4.24
Best Viewed with Mozilla Firefox 1366x768
Copyright © 2017 Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved