Demokrasi Perspektif Syari'ah ditulis oleh SOBRI Pengawas PAI


Demokrasi Perspektif Syari'ah ditulis oleh SOBRI Pengawas PAI

SYURA merupakan salah satu pilar syar’i yang perintahnya berlandaskan Al-Qur’an. Syura (musyawarah) adalah metode yang berhubungan erat dengan aqidah dan syari’ah. Syura mempunyai akar yang dalam. Jangkauannya luas di dalam jiwa pribadi seseorang dan dalam keberadaan masyarakat. Syura ada di manapun syari’ah dan jamaah ada, kendatipun negara tidak ada. Konsistensi pribadi, jamaah, dan para penguasa terhadap syura adalah hasil dari ketundukan mereka pada kedaulatan syari’ah, bukan karena UUD, bukan karena salah satu syarat bai’at, bukan pula karena undang-undang buatan manusia yang seawktu-waktu dapat di amendemen atau dimidifikasi. Perintah syura diambil dari sumber-sumber syari’at Islam yang bersifat ilahiyah. Syura memelihara kita dari pendewaan terhadap para penguasa beserta undang-undang mereka yang akapan saja bisa dihapus dan diubah sesuai dengan kehendak para penguasa. Karena itu, syura dapat menghalangi hukum-hukum yang dipaksakan oleh para penguasa sesuai dengan kehendak mereka, Syura juga dapat mencegah pemaksaan hukum-hukum yang tidak terkait dengan kaidah-kaidah syari’ah yang diambil dari sumber-sumber samawi.

Prinsip syura meneguhkan syari’at ilahiyah dalam rangka memelihara masyarakat. Dengan begitu, masyarakat tidak tunduk pada keberhalaan kekuasaan yang disebabkan oleh sikap mempertuhankan para penguasa yang sering mengaku memiliki wewenang dalam membuat sekaligus menerapkan hukum. Tindakan demikian dapat membuka lebar-lebar jendela kedurjanaan dan perbudakan terhadap seseorang dan suatu bangsa. Caranya adalah dengan mempermainkan undang-undang dan konstitusi yang diklaim bersumber dari negara. Padahal, negara mungkin dikuasai oleh sekelompok orang, baik dengan jalan kudeta maupun melalui partai.

Syura dalam arti yang universal adalah termasuk ciri khas fiqih Islam. Syura juga termasuk salah satu keistimewaan yang ditujukan bagi kemanusiaan. Syura bisa menyelamatkan masa depan manusia dari teori-teori filsafat sebagai landasan sistem politik modern yang senantiasa kontradiktif dan labil.

Sebagian penulis dan peneliti Muslim menyamakan syura dengan demokrasi. Akibatnya, syura dipisahkan dari sumber-sumbernya yang syar’i. Syura kemudian dikaitkan dengan teori-teori Eropa dan pusat kekuasaan negara. Padahal, fondasi syura yang islami adalah hak kemanusiaan yang fitri serta kebebasan pribadi dan bangsa yang telah ditetapkan oleh syari’ah Islam dan oleh aqidah tauhid yang fitri.

Berbagai filsafat demokrasi dan non-demokrasi saat ini menganggap bahwa undang-undang merupakan penjabaran kekuasaanya. Adapun tasyri’ (perundang-undangan) dalam Islam ialah fiqih dan ilmu. Dalam Islam, jika ada sesuatu keputusan yang ditetapkan, keputusan itu tidak keluar dari wewenang negara atau dari para pemimpin dan penguasanya. Keputusan itu lahir dari Al-Qur’an, Sunnah Nabi saw., Ijma’ sahabat, dan Ijtihad para ulama.

Syura merupakan sistem partisifasi secara kolektif dalam mengeluarkan pendapat dan keputusan. Syura juga merupakan kerangka bagi bentuk-bentuk hubungan kesetiakawanan sosial. Syura adalah cara yang digariskan oleh syari’ah kita agar umat dapat mencapai tujuannya yang tinggi. Dengan perantaraan syura, umat bisa sampai pada gagasannya yang ideal. Adapun kekuatan yang mendorong umat ke arah tujuan tersebut ialah aqidah yang benar dan syari’ah yang penuh toleransi. Dengan demikian, syura adalah jembatan umat untuk mencapai tujuan-tujuannya yang mulia dan tinggi yang telah digariskan oleh syari’ah. Sebagaimana dalam firman Allah swt. Artinya :

“ dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan muyawarah antara mereka ; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepeda mereka. “ ( Asy-syuura : 38)

Namun, jika umat mengikari prinsip-prinsip syari’ah, kemungkinan besar syura atau tasyawur malah bisa membuka jalan ke arah perpecahan, perselisihan dan pembunuhan. Pada akhirnya, masyarakat menjadi arena hawa nafsu, ketamakan, dan perselisihan antarpartai, antargolongan dan antarkelas.

Hasil syura yang secara kolektif harus dipatuhi ialah ketetapan-ketetapan yang diputuskan oleh jama’ah (konsensus atau voting). Isi dari ketetapan-ketetapan ini ditentukan oleh kehendak, pendapat, dan pikiran jama’ah sebagai hasil dari nilai-nilai yang meluas dalam masyarakat. Dengan demikian, jika jama’ah telah terlepas dari nilai-nilai tinggi yang diwajibkan oleh syari’ah kita, jama’ah tersebut akan menjadi zalim. Akibatnya, semua ketetapannya mencerminkan kezaliman dan permusuhan kendati merupakan hasil rumusan syura. Ini karena tasyawur yang dilakukan oleh orang-orang zalim tidak akan  menghasilkan selain bersumber dari kezaliman dan permusuhan mereka. Inilah yang terjadi  di arena masyarakat pada sebagian penguasa kita ketika mereka menampilkan slogan “ Demokrasi Eropa  “ dengan tujuan mengingkari prinsip-prinsip syari’ah dan aqidah kita.

Mari kita menengok dunia Barat. Ternyata, negara-negara yang paling suka menciptakan permusuhan dan kezaliman terhadap bangsa lain adalah mereka yang menerapkan sistem demokrasi. Demokrasi yang mereka anut tidak dapat mencegah mereka mengambil ketetapan-ketetapan destruktif untuk mengekploitasi bangsa-bangsa lain. Mereka bahkan memperbudak dan menguasai wilayah-wilayah negara lain dengan tujuan kolonialisme. Lalu, mereka menyebarkan benih-benih fitnah dan permusuhan dengan tujuan melemahkan dan menundukkan bangsa-bangsa kecil. Demokrasi hanya memberikan kebebasan yang diberikan untuk keserakahan hawa nafsu kelompok dan bangsa tertentu. Kebebasan yang diberikan oleh demokrasi itu tidak dikendalikan oleh kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip ketuhanan yang dapat mengontrol sekaligus mencegah keterjangkitan oleh sikap arogan, sesat, menyeleweng, dan zalim.

Umat yang dewasa. Yang konsisten dengan syari’ah, tidak akan dapat ditaklukkan oleh keinginan untuk menjajah dan mengumbar ketamakan rasial. Ini karena syari’ah Islam pun meajibkan kaum Muslim agar mempergauli orang-orang yang mau dekat dengan meraka, atau hidup bersama-sama dalam satu tanah air, dengan pergaulan kemanusiaan yang adil atas dasar “ saling mengambil keuntungan dan saling menanggung beban “. Tidak ada anggapan untuk membedakan manusia karena faktor perbedaan kebangsaan dan warna kulit. Persamaan ini merupakan buah syari’ah kita.

 Hal ini berbeda dengan sistem kaum penjajah Barat. Sistem Barat membolehkan politik apartheid, membanggakan diri, merasa lebih tinggi dengan ras dan warna kulit yang mereka miliki. Sistem ini juga membuka jalan perbudakan atas bangsa-bangsa lain serta merendahkan mereka. Demokrasi dan musyawarah mereka tidak konsisten dengan prinsip-prinsip ketuhanan atau syari’ah langit, dan juga tidak pernah mengahalangi penjajajhan dan perbudakan atas bangsa-bangsa lain. Mereka tanpa sungkan atas nama demokrasi, perampok hak-hak dan kekayaan orang lain selama mereka dapat menuruti ketamakan dan kepentingan nafsu mereka.

Oleh karena itu, apabila syura dipisahkan dari prinsip-prinsip Islam dan syari’atnya, ia akan berubah menjadi bentuk palsu dan berbahaya, sama sekali tidak menggambarkan syura islami. Karena itulah, syura yang kita pelajari memiliki kaidah-kaidah islami. Hukum-hukum syura berkaitan erat dengan syari’ah sehingga sumber, kandungan, dan jangkaunnya tidak dapat dipisahkan dari syari’ah. Sebagai teori yang  memiliki sumber dan kaidah islami, syura berbeda dengan teori-teori impor dan jauh dari kemungkinan untuk dipalsukan dan dilelewengkan.

Hukum-hukum syura dalam pengertian umum tidak terbatas pada segi konstitusi dan undang-undang, sebagaimana dalam demokrasi politik. Syura juga mempunyai hukum-hukum lain yang bersentuhan dengan aspek keagamaan dan akhlak

Dengan demikian, syura - dalam korelasinya dengan hukum-hukum syari’ah yang diambil dari ijma dan ijtihad - membuka pintu seluasnya-luasnya untuk menciptakan pembaharuan. Syaratnya, kita harus tetap konsisten dengan prinsip-prinsip fundamental yang tercantum dalam sumber-sumber samawi, yakni Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. (Drs.Sobri. A, M.Ag )



 


 

Halaman ini diproses dalam waktu : 0.527 detik
Diakses dari ip address: 3.238.4.24
Best Viewed with Mozilla Firefox 1366x768
Copyright © 2017 Subbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi - Allright Reserved